tumblr_static_tumblr_static_8yfxo2960k4c0k00s88ks8ocs_640

Bengkoknya Seorang Perempuan

 

Gak tau kenapa habis baca buku “Perempuan” karangan Bapak Quraish Shihab, seolah memotivasi saya untuk menuliskan sepercik opini saya mengenai interpretasi perempuan sebagai tulang rusuk yang bengkok.

Ada hadist yang mengatakan:

Saling memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.” [HR. Bukhari, Muslim dan At-Tarmidzi melalui Abu Hurairah]

Berdasarkan hadist diatas, wdyt?

Perempuan itu rapuh? Karena perumpamaan penciptaannya dideskripsikan dengan ‘tulang rusuk yang bengkok’?

atau

Kata ‘bengkok’ yang menginterpretasikan segala penyimpangan yang sejatinya ada dalam diri perempuan?

Atau apa?

Sebenarnya, hadist ini bermaksud untuk memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana karena ada sifat&kecenderungan perempuan yang tidak sama dengan lelaki, yang bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk berperilaku tidak wajar kepada perempuan. Dan you know sendiri lahyaaa, ini udah banyak banget kejadiannya. Kekerasan pada wanita. Ieuw banget tuh tersangkanya!

Siapapun tidak akan mampu mengubah kodrat, termasuk kodrat perempuan. Kalau ada yang memaksakan perubahan itu, akibatnya akan fatal. Sama halnya dengan meluruskan tulang rusuk yang bengkok. Bakal patah. Sakid bro.

Mungkin banyak yang beranggapan, khususnya kaum lelaki, kata ‘bengkok’ dari tulang rusuk yang merupakan wujud perumpamaan penciptaan perempuan ini sebagai lot of ‘women error’ yang kayaknya gak bisa ditolerir keberadaannya. Hina banget kesannya hmmm.

Please boy, itu hanya ilustrasi yang diberikan Nabi saw. terhadap persepsi yang keliru dari sebagian lelaki menyangkut sifat perempuan sehingga para lelaki berasumsi untuk ‘memaksakan meluruskan’ si tulang rusuk yang bengkok itu.

Jadi..Buat abang-abang, kakak-kakak, mas-mas, bebeb-bebeb, para lelaki sekalian, udah tau kan perempuan itu diibaratkan dengan ‘tulang rusuk yang bengkok’? Yang gakbisa banget dipaksain buat kami jadi ‘lurus’. Nanti malah abang sendiri yang sakit karena berusaha mau ngelurusin tulang rusuknya abang…

Dengan kebengkokan kami, tidak sampai hati untuk kami jadi ‘menye-menye’ sama lelaki, sama kalian-kalian semua.

Dan dengan adanya metaforis diatas, don’t you ever think kalo perempuan itu lemah dengan segala ketidakberdayaannya. Kalo perempuan itu selamanya emang ‘bengkok’ alias full of kesalahan dan penyimpangan yang acapkali dilakukannya dan saya pun tak pernah luput akan hal itu. Percayalah, dibalik suatu kekurangan, terdapat suatu kelebihan, gais.

Cuma laki-laki yang punya kekuatan, cuma laki-laki yang bisa.

Don’t you ever think like this, guys. Gak baik!

Karena sejatinya, kami tidak sempurna. Kita semua tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik Dia.

Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Ali Imran ayat 195:

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”

Yang maksudnya, kita itu satu; perempuan dan laki-laki. Kita saling melengkapi. Kita itu sama dihadapan-Nya. 🙂

 

**

but2

Kegabutan yang Haqiqi [part2]

Heyhooo! Udah baca part 1 kan? Nah ini dia lanjutannya..

**

Untuk aku pribadi, memilih gap year karena aku yang mau.

Ortu sempet heran akan keputusanku dan keukeuh untuk tetap menyekolahkanku tanpa harus menjalani Gap Year. Yasudah aku iyakan. Namun, pada akhirnya ortu sendiri yang ngasih suggest gitu biar aku take a Gap year.

Karena pada saat itu, beberapa kali aku telah gagal dalam test masuk perguruan tinggi. Payah banget ya gitu aja udah nyerah? Iya, memang payah. Maka dari itu, mungkin orangtuaku ngenes ngeliat aku yang harus menerima kenyataan berupa kegagalan yang bertubi-tubi.

Sebenernya, bisa ajasih masuk swasta. Disaranin malah sama ortu. Tapi..ada yang lebih kompleks dari masalah kegagalan, yang selalu aku pikirkan.

Yaitu masalah f i n a n s i a l.

Kolot banget ya aku mikirin hal begituan segala? Karena tidak dipungkiri, finansial selalu saja menjadi masalah utama dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri yang kita cintai ini.

Masalah finansial ini pula yang menyerukan semangat ‘udah, take a gap year dulu aja..sekalian Papa ngumpulin pundi-pundi rezeki.‘ dalam pikiranku.

Karena aku bukan anak tunggal, aku tidak bisa egois dengan saudara-saudara kandungku. Mereka cimit-cimit yang masih butuh pendidikan. Dan orang tuaku tersayang, kerapkali menyembunyikan kekalutannya dengan berdalih:

“Udah, kamu jangan pernah mikirin tentang biaya. Bisa kok papa daftarin kamu swasta dimana aja. Yang penting kamu kuliah, berpendidikan..Ade-ade juga tetep bisa sekolah.”

Enggak pah, enggak..

Biaya yang sudah dikeluarkan untuk membeli formulir pendaftaran test masuk perguruan tinggi sana sini sudah cukup menguras dompet. Dan berapa banyak test yang telah aku ikuti, ujung-ujungnya selalu gagal. Aku gak mau hal sia-sia ini berkepanjangan hingga menguras keuangan negara keluarga.

Dan aku juga ingin istirahat…

Selain itu juga, pada saat itu aku belum mengenali sepenuhnya diriku sendiri, apa bakat dan minatku. Aku masih sedikit ragu dengan jurusan yang menjadi pilihanku. Mungkin Allah melihat keraguanku, sehingga jalan terbaiknya yaa take a gap year.

Jujur sejujur-jujurnya, pada awalnya emang berat menjalani Gap Year.

Ngeliat temen-temen yang lagi di ospek, munculah secerca  ‘kabita’ (baca: kepengen) dari dalam lubuk hati untuk bisa melakukan hal yang seperti mereka lakukan, yaitu di ospek. Terus terus, sahabat karib udah dapet temen baru, cuma bisa sedih dan berharap semoga mereka gak ngelupain aku. Ahh..pokoknya banyak banget tantangannya!

Tapi tapi tapi, percayalah segala sesuatu pasti ada hikmahnya, Sob.

Termasuk masa Kegabutan yang Haqiqi a.k.a Gap Year yang kini tengah aku jalani. Ada hikmah nya banget. Let me tell you:

Menjadi Ajang Evaluasi Diri

Hanya pada saat Gap Year, kamu bisa punya “waktu khusus-nya kamu” buat bermuhasabah dan mengevaluasi diri dari segala khilaf yang selama ini melekat dalam raga dan jiwa. Dan ini penting bangetsih bagiku. Dimana letak kesalahan aku selama ini? Kenapa aku bisa gagal? Apa yang harus aku perbaiki? Percayalah, niscaya kamu akan menemukan jawabannya yang langsung tersirat dalam benak dan pikiranmu lalu merasuk dalam jiwa. Dan hal ini bisa dilakukan secara optimal (meskipun belum sepenuhnya) HANYA PADA SAAT GAP YEAR.

Kenalan sama Diri Sendiri

Banyak dari kita, khususnya remaja-remaja peralihan yang ternyata masih belum kenal sama dirinya sendiri. Termasuk aku. Selama ini aku sadar, aku tuh remaja peralihan labil yang mudah banget terombang-ambing oleh ombak tipudaya kehidupan dunia. Dan itu sangat menyedihkan. Sudah saatnya berkenalan sama diri sendiri. DAN HANYA PADA SAAT GAP YEAR, kamu jadi punya banyak banget waktu buat ngenalin siapa kamu sebenernya, siapa kamu selama ini, dan mau jadi siapa lagi kamu dimasa depan. Yaiyalah banyak banget waktu, kegabutan yang haqiqi gitulo^^

Punya Hobi Baru

Naaah ini, HANYA PADA SAAT GAP YEAR, kamu bisa mencoba bidang baru yang sebelumnya belum pernah kamu coba. Dan siapa tau hal baru itu bisa jadi hobi baru kamu dan mungkin itu adalah bakat terpendam kamu! Who’s know, ya gaksi? Termasuk hobi menulis yang kini sedang menggelora dalam diriku. Karena sering gabut, jadi kepikiran buat berkarya. Setidaknya sepatah atau dua patah kata yang bisa membuat diri ini abadi. Daaann ada sedikit notes nih, jika kamu telah menemukan hobi mu, istiqomahlah dalam menjalaninya, niscaya kebahagiaan takkan pernah luput dari hidupmu..*nasehatin diri sendiri

Banyak Waktu untuk Belajar

HANYA PADA SAAT GAP YEAR, kamu bisa punya banyak waktu untuk belajar. Belajar yang kumaksud bukan hanya sekedar belajar mengerjakan soal-soal yang seabreg, tapi kita bisa belajar banyak hal:

  • Belajar menjadi pribadi yang lebih baik than before
  • Belajar mencintai diri sendiri
  • Belajar menyayangi keluarga
  • Belajar menjadi hamba yang diinginkan-Nya
  • Belajar menerima keadaan
  • Belajar bersabar
  • Belajar mengikhlaskan
  • Belajar memaknai kehilangan 

    Dan pembelajaran-pembelajaran lainnya yang bisa aku lakukan HANYA PADA SAAT GAP YEAR.


Sebenernya muasih buanyak buanget hikmah-hikmah yang dapat kupetik dari masa Kegabutan yang Haqiqi yang tengah aku jalani ini. Yang kalo aku tulisin semuanya bakal jadi skripsi * eaaa *. Intinya, aku sangat menikmati masa-masa ini. Yang kelak akan aku rindukan jika aku berkuliah nanti.

Dan untuk temen-temen yang udah kuliah, sini deh aku bisikin…

Jangan pernah sia-siakan masa kuliah kalian! KARENA MASIH BANYAK JIWA JIWA MUDA YANG INGIN BERKULIAH. Termasuk aku. Khususnya buat yang udah nyantol di PTN, PLEASE BANGET INIMAH kalian harus semangat! Jangan sering ngeluh..Boleh sih ngeluh, tapi sedetik kemudian kalian harus istighfar lalu bersyukur. Karena posisi kalian itu impian banyak orang.

Ah lu mah enak bisa ngomong kaya gitu, kan lu belum ngerasain gimana capeknya kuliah..

Posisi kita sama-sama berjuang gais. Kalian yang udah kuliah berjuang buat berprestasi di kampus masing-masing, dan aku juga berjuang untuk bisa berada diposisi kalian. Yaitu menjadi seorang mahasiswa. IMPAS KAN? 😉

Sekian dan terimakasih.

but

Kegabutan yang Haqiqi [part1]

Oke, oke. Jadi gini,

Sebenernya udah lama banget pengen posting tentang tulisan ini. Tapi gatau kenapa kok ya banyak banget godaannya..Jadi, kurasa sekarang adalah waktu yang tepat!

Langsung aja kali ya?

Seperti judul diatas, ‘Kegabutan yang Haqiqi’ adalah apa yang benar-benar aku alami selama kurang lebih 6 bulan terakhir ini. Tbh, ada istilah yang lebih keren lagi dari Kegabutan yang Haqiqi, yaitu GAP YEAR.

Yup, Gap Year!

Mungkin masih terdengar awam, bukan? Karena aku pribadi pun baru mengetahui istilah Gap Year beberapa bulan lalu dari salah satu Official Account Lin* yang membagikan sebuah artikel yang berisi sebuah kisah dari Kak Yoga Febrian Pratama yang kini sudah berkuliah di FTMD-ITB dan sudah berhasil mengepakkan sayapnya ke Tohoku University, Japan.

Dan apa yang menarik?

Kak Yoga adalah mantan pejuang Gap Year pada masanya. Suatu pencapaian yang luar biasa dari penantian panjangnya!


Sebelum lanjut lebih jauh, you must know banget about apa itu Gap Year. Dalam definisi yang saya baca dari sumber web terpercaya “Google” via wikipedia:

Gap Year (Kesenjangan Tahun) adalah jeda beberapa bulan ataupun setahun atau lebih, tapi biasanya dilakukan sampai setahun saja setelah kita lulus dari sekolah menengah atas. Ketika kita ingin menentukan apakah kita harus bekerja atau melanjutkan sekolah lagi.
Biasanya, Gap Year di lakukan dengan berbagai cara, misalnya mengambil les keterampilan, bekerja part time atau full time, magang, dan sebagainya. Biasanya fenomena ini populer dikalangan remaja di Negara barat.

Tapi bagiku, Gap Year adalah penghalusan kata ‘Menggabut untuk sementara waktu’ agar tidak terdengar begitu ekstrem. Hehehehehehe. He.

Dari tadi gabut gabut mulu, apasih Gabut?

Menurut kitabgaul(dot)com, Gabut sendiri memiliki beberapa arti yang berbeda tapi rada2 nyerempet dikit.

Pertama:
Istilah buat orang yang gak kerja, padahal fasilitas udah dia terima duluan

Kedua:
Tidak melaksanakan sesuatu padahal sudah diberi fasilitas

Kalo menurut kak Alvino yang tertulis dalam blognya,

Gabut itu sebenernya terdiri dari 2 kosa kata. Yang pertama itu Ga berarti Gaji dan But berarti Buta. Jadi gabut itu kepanjangan dari Gaji Buta. Namun dikarenakan sudah terjadinya proses filtrasi augmentasi dan reabsorbsi *sok anak ipa* gabut beralih arti menjadi sesuatu hal yang berhubungan dengan males, mager, bosen, deesbe deelel.

Begitulah kiranya…

Gap year adalah hal yang wajar dan bahkan disarankan supaya kita gak buru buru mengambil keputusan yang bener-bener menentukan ini. Ini menurutku, bagaimana dengan kamu, biarlah itu menjadi urusanmu(?)

Walaupun gak sedikit yang memandang take a gap year dengan sebelah mata.

Padahal ya, FYI ajasi inimah, mengambil sebuah keputusan untuk ‘yaudah, aku take a gap year aja’ bukan perkara yang mudah, Sob. Butuh istikharah panjang, pertimbangan matang dan tentunya restu dari orangtua. Dan banyak sekali cobaan pada saat mengimplementasikannya huhuhu.
.

.

Gimana coba kelanjutannya? Kita lanjut di part berikutnya 🙂

ilustrasi-memulai-bisnis

Awal Mula Coretan Puti

 

Terimakasih bu Zulfa

Gini ceritanya,

Dahulu kala, aku paling gak bisa dan gak mau berhubungan dengan dunia tulis menulis. Tapi sejak negara api menyerang aku duduk dibangku sekolah menengah pertama, semuanya berubah. Saat itu, Bu Zulfa (anak SMPN 9 Cimahi pasti tau) memberi kami tugas membuat buku diary alias buku harian.

Dimana dalam buku itu harus terisi penuh dengan tulisan. Apapun itu  tulisannya. Walaupun hanya sehuruf satu kalimat, bu Zulfa dengan senang hati membacanya. Intinya, setiap hari harus nulis. Gitu kasarnya mah.

Akhirnya mau tidak mau, aku harus berkecimpung dalam permainan kata-kata. Awalnya aku merasa kesulitan. Karena gak terbiasa banget buat nulis apa yang terjadi dalam kehidupanku.  Karena bagiku, yang lalu biarlah berlalu * tsaaah *. Gak deng, bohong.

Balik lagi ke kamu topik!

Dengan kesulitan yang kualami, aku gak mau begitu saja menerima kelemahanku. Bagaimanapun caranya, tulisan tentang hari ini harus sudah dapat ku goreskan dibuku 58 lembar yang sudah ku modifikasi agar terlihat sedikit menarik.

Aku pun berpikir sangat keras bagaimana caranya agar tulisanku terlihat menarik. Kalo cuma “Hari ini aku bosan. Aku sedih pengen nangis karena aku bosan.” kayanya gak banget deh.

Aku harus bisa mengembangkan kata-kata. Gak mau tau, kata-kata aku harus lebih menarik dari teman-temanku!

Begitulah keegoisanku saat itu.

Ku kembangkanlah kata-kata tersebut menjadi: “Entah mengapa, sepertinya ada yang salah pada hari ini. Bukan, bukan harinya yang salah. Tapi salahku dalam menjalani hari. Aku merasa aku sangat bosan. Sangat teramat bosan. Darimana bosan itu berasal, jelas aku tidak tahu. Yang jelas, aku sangat tidak mengharapkan hal ini terjadi…Blablabla dst.”

WOHOOO!

Ternyata asyik juga ya menulis itu. Kata-kata itu muncul dengan sendirinya dipikiranku entah darimana rimbanya. Menulis memang asyik! Walaupun tulisanku masih sangat teramat jauh dari kata sempurna, tapi aku merasa bangga telah dapat berani menulis. Berani, dong! Kalian ga akan pernah tau kalo gak mencobanya langsung.

Gak kerasa, buku harianku sudah sampai di lembaran terakhir. Aku sendiri gak nyangka banget baca tulisanku yang telah memenuhi lembar demi lembar buku harian tersebut. Walaupun susunan kalimatnya masih acak-acakan, pemilihan katanya kurang tepat, tapi sejak saat itu aku jadi suka menulis.

Terimakasih bu Zulfa 🙂

 

Blog ieeeuw!

Sejak saat itu pula, aku mulai membuat sebuah blog. Blog pertamaku itu aku buat di blogspot(dot)com. Dan isinya absurd banget! Curhatan-curhatan alay ala abg SMP. Dan ternyata dulu itu aku ieuw people banget kalo dipikir-pikir. Akhirnya blog itu aku hapus karena jijik alasan tertentu.

 

Vacuum of Power

Sempat aku vacuum untuk urusan tulis menulis. Aku merasa jenuh. Akhirnya dengan begitu saja aku lupakan hobi semasa SMP ku itu. Saat aku duduk di bangku SMA, tak ada hasrat secuil pun untuk aku kembali menulis. Menulis apa saja. Tampaknya aku berada pada titik jenuh yang tak terelakkan.

 

Terimakasih Sonyaaa!

Semangat menulisku kembali menggelora baru-baru ini. Untuk mengisi kekosongan hariku. Karena belum ada kegiatan berarti selepas kelulusan SMA terhelat. Yap, aku take a gap year. Yang nanti akan aku ceritakan lebih detil di postinganku selanjutnya.

Aku mulai kembali membuat blog tak lain tak bukan karena aku melihat salah satu link blog milik temanku yang dibubuhkan di bio instagram miliknya. Temanku itu adalah, Sonya! Karib dipanggil Nyai. Iya, Sonya ini satu almamater denganku di SMPN 9 Cimahi. Dulu kita sempat sekelas pada saat kelas 9. Dan juga satu ekstrakurikuler. Aaah Nyai, kangen kamuuu!:’)

Sempet stalking isi blognya Sonya yang pada akhirnya membuatku berdecak kagum akan rangkaian katanya yang berhasil Ia susun menjadi sedemikian indahnya. Selain itu, tulisannya yang ringan dan enak dibaca membangun motivasi tersendiri bagiku untuk mulai ngeblog lagi.

Maka, terciptalah Coretan Puti. Yang nanti mungkin akan berganti nama. Entah jadi apa.

Terimakasih banyak Nyaikuuu:) Berkat blog milikmu, motivasiku untuk menulis kembali tersulut..

 

Terimakasih Rama

Ada satu hal lagi yang menjadi awal mula terciptanya Coretan Puti. Adalah kegemaranku membaca novel. Awalnya aku gak suka banget baca. Parah ya:’)

Tapi semenjak temanku, Rizki Ramadhan Putra yang karib kupanggil Rama meminjamkan beberapa novelnya padaku, aku jadi suka membaca . Novelnya menurutku bukan novel biasa.

Ialah novel karya A.Fuadi dengan seri trilogynya. Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan yang terakhir Rantau 1 Muara. Karena kebetulan aku sudah menonton film Negeri 5 Menara, jadi aku hanya pinjam sisanya.

Selain novel trilogy karangan A.Fuadi, Rama juga meminjamkanku novel Dilan-nya kang Pidi Baiq yang lagi nge-hits banget dikalangan remaja muda penuh cinta dan kegalauan. Dan satu novel lagi, Ayat-ayat Cinta karangan Habibburahman El-Shirazy yang berhasil membuatku suka membaca.

Terimakasih Ramaaa, berkat novelmu, aku jadi gemar membaca 🙂


Ada yang pernah bilang,

“Kalian tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca.”

(CMIIW btw buat quotes diatas >,<)

Dan hal itu aku rasakan sekarang. Aku gak akan pernah bisa merangkai kata dan menyusunnya menjadi suatu kalimat dan paragraf, tanpa aku membaca terlebih dahulu. Buku apa saja, tentang apa saja.

Mungkin hanya itu yang bisa aku sampaikan tentang Awal Mula Coretan Puti.

Berjuta rasa terimakasih aku haturkan melalui postinganku kali ini kepada semua orang baik disekelilingku yang telah menjadi dalang dalam motivasiku untuk tetap menulis.

Terimakasih banyak yaaa^^

Gak akan pernah bisa aku membalas kebaikan hati kalian semua. Cukuplah Allah sebagai Sang Pembalas. Aku bakal terus belajar menulis dan tetap memperbaiki kekeliruanku yang tak pernah luput dari diri ini.

Terimakasih Kamu!

Juga padamu, yang telah menjadi bagian dari setiap bait puisi yang telah ku susun. Yang selalu menjadi inspirasiku untuk terus menulis puisi tentangmu. Karena hanya tentangmu lah hal yang tak akan pernah habis dan tak akan pernah bisa pula aku berhenti menceritakannya. Makasih yaaa:’)


 

gift1

Pemberian

“Sesuatu yang biasa saja menurutmu, baginya bisa jadi sesuatu itu yang paling luar biasa.”

Kesan orang dalam menyikapi sesuatu itu beragam. Jadi, jangan pernah anggap remeh sesuatu. Karena setiap insan punya hati yang berbeda. Punya rasa yang berbeda dalam menilai sesuatu. Dalam menyikapi sesuatu. Termasuk pada “Pemberian”.

Pemberian yang ku maksud disini itu dalam konteks kado/hadiah. Baik yang diberikan dalam event tertentu (hari ulang tahun) atau secara insidental (tiba-tiba, tidak di hari spesial). Masih terdengar wajar bila pemberian itu diimplementasikan pada ‘hari nya’ seperti pada acara ulang tahun kita misalnya. Justru pemberian itu diharapkan, bukan? Meskipun banyak dari kita yang menghipokritkan diri akan hal itu. Termasuk saya sendiri.

Mungkin banyak yang berfikir, segala sesuatu yang berbau “pemberian” adalah hal yang tabu dan remeh. Banyak yang beropini bahwa:

“Dia ngasih itu, pasti ada maunya..”

Atau mungkin
“Dia ngasih itu, karena dia mau sama aku…”

Atau ini
“Wah, dia ngasih ini. Pasti nanti dia pengen dikasih yang lebih dari apa yang dia kasih ke aku.”

Begitu banyak umpatan negatif tentang pemberian. Baik itu pemberian yang diberi oleh orang yang kita inginkan, atau bahkan dari orang yang tidak kita inginkan sekalipun.

“Setiap orang pasti memiliki alasan dalam melakukan sesuatu.”

Termasuk dalam memberi sesuatu.

Walaupun kita tidak akan pernah tau alasan dari seseorang tersebut dalam pemberiannya.

Kalau sudah begini, ada baiknya kita belajar menghargai.
Sekecil apapun pemberian itu, kita tidak pernah tau seberapa besar perjuangan orang tersebut untuk mendapatkan sesuatu yang pada akhirnya diberikan kepada kita.


[Terinspirasi dari kejadian pada hari ini, kala siang hari, di ulangtahunmu]

 

Kepadamu, Rindu ini Tak Jemu

Kamu
Yang dulu adalah selalu
Tak peduli petang  berlalu
Bersama kita habiskan waktu

Sang waktu datang cepat memburu
Merenggut kisah semasa lalu
Menjeda setiap temu
Antara aku dan kamu

Kamu
Yang kini telah berlalu
Kemanakah sosokmu  yang dahulu?
Sang pencipta senyum dibibirku

Sendu
Jauh  dari dalam kalbu
Kian tak menentu
Kepadamu, rindu ini tak jemu


Cipageran, 20 Desember 2016.
Ditulis pada pukul 20:30 WIB
Dengan penuh rindu
Dan sedikit rasa ngantuk

Belajar

Karena sejatinya, kita hidup untuk belajar..

GEMBOLAN

Aku, pernah merasa jenuh sekali dengan materi-materi, dengan soal-soal, dengan tugas, dengan laporan, dengan persentasi, dengan sekolah.

Aku merasa aku tertinggal. Ditinggalkan.Aku tak paham. Aku ingin paham. Aku tak tahu tujuan ku belajar, aku tak tahu hakikat kebijaksanaan ilmu itu yang mestinya aku peroleh.

Yang aku tahu, aku hanya mesti mendapat ranking untuk sebuah pengakuan. Tak ada motif ; semua hanya sekedar motivasi sampah.

Hingga, suatu ketika aku sadar. Tersadarkan. Son, ada yang salah sama kamu. Ia, salah satu orang yang membuatku iri akan kecintaannya terhadap belajar. Mastah.

Kita, sering berdiskusi banyak hal. Dan saat itu aku mendiskusikan kejenuhanku dalam belajar. Katanya, tidak ada orang yang terlahir langsung jadi profesor. Semua butuh proses, dan proses itu dinamakan belajar.

Itu dia, aku selama ini tidak memandang belajar sebagai sebuah proses, tapi memandang sebagai ajang ‘penilaian’ terhadap diri. Belajar adalah proses. Proses untuk apa? Untuk mencapai tujuan.

Maka dari itu, tujuanlah yang…

Lihat pos aslinya 238 kata lagi